Di abad 20, fisika kuantum mengabdi pada teknologi komputer

Transformers selalu tampil keren dari awal. Tapi sekarang saya sudah merasa terlalu kenyang dengan aksinya. Kalau tambah sekuel lagi, kayaknya bakal muntah deh. Cukup…cukup…cukup…
Oh ya, tambahan: sejauh ini, film tentang perang melawan serangan alien yang paling mengesankan bagi saya adalah “Battle of L.A.”. Sebelum film itu muncul, yang paling mengesankan masih “Independence Day”.

Pemikiran yang terlintas sampai hari ini untuk tesis studi media:
1. Sebenarnya, apa pentingnya media bagi umat Islam?
2. Sebentar, emangnya “umat” itu apa? Bagaimana mendefinisikan atau membedakan “umat” dari entitas lain dalam ilmu komunikasi, seperti “publik”, “massa” dan “group”?
3. Bagaimana mendefinisikan “umat Islam” sebagai sebuah entitas?
4. Bagaimana mengetahui apa yang dibutuhkan umat Islam dari media?
5. Bagaimana mengetahui apakah kebutuhan tersebut sudah terpenuhi atau tidak?
6. Jika sudah terpenuhi, media mana saja yang memenuhinya dan mana yang tidak? Asumsinya adalah: media yang memenuhi kebutuhan umat Islam adalah media yang diterima oleh “pasar/market” umat Islam. Dengan kata lain, media tersebut akan terus bertahan hidup. Bisa saja media tersebut tidak memenuhi kebutuhan seluruh umat, tapi sebagian besar umat Islam, atau sebagian kecil dengan ceruk yang cukup menjanjikan secara ekonomis.
7. Apa dampak dari informasi-informasi yang diberikan media-media tersebut bagi umat Islam? Apakah memang ada nilai-nilai tertentu yang diteguhkan seperti teori media yang mana sih itu? Saya lupa…
Sekian duluuuu. Nanti sambung lagi kalo ada yang baru kepikiran :-)

Kalau mau belok, kurangin gasnya, injak rem belakang (kalau bisa tarik rem depan juga). Bersamaan dengan itu, turunin giginya 1-2 level, kecuali jalannya emang pelan. Begitu udah belok, tarik lagi gasnya dan naikin giginya.
Kalau mau nanjak, turunin giginya sampai gigi 1. Kalau mau turun, giginya ke 2 ajah sambil injak rem belakang dan tarik rem depan.
Yihaaaa…

Do I really love you? Well, let’s just say I’m working on it :-)

Mungkin ini titik awal untuk tesisku. Masih bingung mau ngambil komunikasi bisnis, komunikasi politik, atau komunikasi dakwah. Hasratku sebenarnya mengkaji media, di manapun jurusannya. Fenomena yang paling menarik dan menggemaskan bagiku adalah bagaimana orang-orang, tepatnya aktivis, Islam memandang media. Selalu saja aku mendengar bahwa media adalah bagian dari propaganda Barat dan Yahudi. Bahwa media dikuasai “mereka”. Sebenarnya, bener ga sih?
Giliran aktivis Islam nulis atau ngurus media, yah, memang jadi media propaganda lagi. Menarik untuk melihat bahwa media dipandang sebagai corong, alat untuk menyebarkan pemikiran/ideologi. Memang ada teori yang memandang media seperti itu, yaitu teori media Soviet yang ideologinya juga sekarang sudah runtuh. Beberapa telaah mutakhir juga menyodorkan kesimpulan bahwa media memang tidak bisa netral secara nilai maupun ideologi. Tapi untuk menganggap media adalah corong, rasanya seperti ketinggalan beberapa dekade :-(
Anyway, media Islam dalam paradigma sebagai corong propaganda tadi sebenarnya adalah perkembangan baru, bukan dari sononya. Nanti deh aku cerita lagi. Sekarang mau nyelesain tulisan yang lain dulu…

Di milist KALAM ramai wacana bikin Islamic studies di ITB. Katanya biar penelitian tentang produk halal bisa berkembang. Ada juga yang bilang biar ilmu-ilmu dari Al-Qur’an dan Hadits bisa digali. Tapi kok ada yang ngasih contohnya malah Cak Nur ya? Ini Islamic studies yang gimana nih yang dimaksud?
Islamic studies itu kan arti harfiahnya: “Studi Islam”, studi tentang Islam. Kalau contohnya Cak Nur (Nurcholish Madjid), mungkin maksudnya Islamic studies ala orientalis: studi tentang ajaran Islam untuk memahami bagaimana umat Islam berperilaku atau bertindak.
Kita sepakatin dulu deh maksudnya…
Mecca